“Komunikasi
interpersonal efektif”
Yadha Apriliyanti S. (1c514341)
Komunikasi Interpersonal
Efektif
Komunikasi interpersonal efektif dalam organisasi yang mencakup
Componential dan Situational.
Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi
diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara
dua orang yang dapat langsung diketahui belikannya.
Menurut Effendi, komunikasi interpersonal merupakan komunikasi
antar komunikator dengan komunikan, dimana komunikasi jenis ini dianggap paling
efektif dalam upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang, karena
sifatnya yang dialogis yaitu berupa percakapan.
Arni Muhammad (2009,
159) mendefensikan “Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi
di antara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di
antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. Dengan bertambahnya
orang yang terlibat dalam komunikasi, menjadi bertambahlah persepsi orang dalam
kejadian komunikasi sehingga bertambah komplekslah komunikasi tersebut.
Komunikasi interpersonal adalah membentuk hubungan dengan orang lain.
Hafied Cangara (2006,
31) memberikankan pengertian bahwa komunikasi interpersonal atau komunikasi
antarpribadi ialah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau
lebih secara tatap muka.
Burhan Bungin (2008, 32)
menjelaskan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar-perorangan
yang bersifat pribadi baik yang terjadi secara langsung (tanpa medium) maupun
tidak langsung (melalui medium). Contohnya kegiatan percakapan tatap muka, percakapan
melalui telepon, surat menyurat pribadi. Fokus pengamatannya adalah
bentuk-bentuk dan sifat hubungan (relationship), percakapan (discourse),
interaksi dan karakteristik komunikator.
Menurut Onong Uchjana
Effendy
(2007, 15) umpan balik
dalam komunikasi interpersonal dapat langsung diketahui karena komunikasi
dilakukan dengan tatap muka (face to face communication) dan tanggapan
komunikan dapat segera diketahui.
Indriyo Gitosudarmo dan
Agus Mulyono (2001, 196) mengartikan bahwa komunikasi interpersonal merupakan
komunikasi tatap muka (face to face) ini merupakan hal yang penting bagi
seorang manager atau pemimpin. Keberhasilan dalam komunikasi ini merupakan
faktor penentu bagi keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan
Menurut Agus M. Hardjana
(2003:85) Komunikasi interpersonal adalah interaksi tatap muka antar dua atau
beberapa orang, dimana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung, dan
penerima pesan dapat menerima dan menanggapi secara langsung pula.
Menurut Deddy Mulyana
(2000:73) Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara
tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain
secara langsung, baik secara verbal atau nonverbal. Komunikasi interpersonal
ini adalah komunikasi yang hanya dua orang, seperti suami istri, dua sejawat,
dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya.
Dari berbagai defenisi di atas dapat dinyatakan bahwa komunikasi
interpersonal adalah komunikasi yang terjadi secara langsung atau tatap muka
baik antara seseorang dengan seseorang maupun dengan kelompok, komunikasi ini
sangat efektif karena dapat langsung diketahui respon dari komunikan.
Menurut Agus M. Hardjana
(2003:85) Komunikasi interpersonal adalah interaksi tatap muka antar dua atau
beberapa orang, dimana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung, dan
penerima pesan dapat menerima dan menanggapi secara langsung pula.
Komunikasi dapat dikatakan efektif apa bila komunikasi yang di
lakukan dimana:
1. Pesan dapat diterima dan dimengerti serta
dipahami sebagaimana yang dimaksud oleh pengirimnya.
2. Tidak ada hambatan yang berarti untuk melakukan
apa yang seharusnya dilakukan untuk menundak lanjuti pesan yang dikirim.
Komunikasi interpersonal efektif adalah
komunikasi yang terkandung dalam tatap muka dan saling mempengaruhi,
mendengarkan, menyampaikan pernyataan, keterbukaan, kepekaan yang merupakan
cara paling efektif dalam mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang
dengan efek umpan balik secara langsung.
Secara sederhana, komunikasi adalah proses
penyampaian atau transfer dan pemahaman suatu pengertian (meaning). Jadi dalam
berkomunikasi, kita harus efektif menyampaikan pesan yang ada pada kita kepada
orang lain. Adapun berkomunikasi secara langsung dan sesuai dengan pesan yang
ingin disampaikan kepada orang lain. Karena dapat mengubah sikap, pendapat dan
perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung. Proses
berkomunikasi dimulai dari adanya pesan yang akan disampaikan oleh pengirim,
kemudian ditransfer melalui suatu channel (saluran), kemudian diterima oleh
penerima. Adapun komunikasi interpersonal efektif dalam suatu organisasi
mencakup dua bagian yaitu componential dan situational.
1. Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi dengan
mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan
oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya
dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
2. Situasional
Interaksi tatap muka antara dua orang dengan
potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung disekitarnya.
B. Model Pengolahan Informasi Komunikasi
Model Pengolahan Informasi pada
dasarnya menitikberatkan dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri)
manusia untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan data,
merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya, serta
mengembangkan bahasa untuk mengungkapkannya
Model pengolahan informasi dibawah ini ada 4
yaitu:
1. Rational.
2. Limited
capacity
3. Expert
4. Cybernetic
A.
Model interaktif
manajemen dalam komunikasi
1. Confidence
Dalam manajemen timbulnya suatu interaksi karena
adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan
lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
2. Immediacy
Ini adalah model organisasi yang membuat suatu
organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan
3. Interaction
management
Adanya berbagai interaksi dalam manajemen
seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang
bersangkutan
4. Expressiveness
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu
organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
5. Other-orientation
Klasifikasi Komunikasi
Interpersonal
Redding yang dikutip
Muhammad (2004, p. 159-160) mengembangkan klasifikasi komunikasi interpersonal
menjadi interaksi intim, percakapan sosial, interogasi atau pemeriksaan dan
wawancara.
a.
Interaksi intim termasuk
komunikasi di antara teman baik, anggota famili, dan orang-orang yang sudah
mempunyai ikatan emosional yang kuat.
b.
Percakapan sosial adalah interaksi untuk
menyenangkan seseorang secara sederhana. Tipe komunikasi tatap muka penting
bagi pengembangan hubungan informal dalam organisasi. Misalnya dua orang atau
lebih bersama-sama dan berbicara tentang perhatian, minat di luar organisasi
seperti isu politik, teknologi dan lain sebagainya.
c.. Interogasi atau pemeriksaan adalah
interaksi antara seseorang yang ada dalam kontrol, yang meminta atau bahkan menuntut informasi
dari yang lain. Misalnya seorang karyawan dituduh mengambil barang-barang
organisasi maka atasannya akan menginterogasinya untuk mengetahui kebenarannya.
d. Wawancara adalah salah satu bentuk
komunikasi interpersonal di mana dua orang terlibat dalam percakapan yang
berupa tanya jawab. Misalnya atasan yang mewawancarai bawahannya untuk mencari
informasi mengenai suatu pekerjaannya.
Tujuan Komunikasi Interpersonal
a.
Menemukan Diri Sendiri
Salah satu tujuan
komunikasi interpersonal adalah menemukan personal atau pribadi. Bila kita
terlibat dalam pertemuan interpersonal dengan orang lain kita belajar banyak
sekali tentang diri kita maupun orang lain.
Komunikasi interpersonal
memberikan kesempatan kepada kita untuk berbicara tentang apa yang kita sukai,
atau mengenai diri kita. Adalah sangat menarik dan mengasyikkan bila berdiskusi
mengenai perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita sendiri. Dengan membicarakan
diri kita dengan orang lain, kita memberikan sumber balikan yang luar biasa
pada perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita.
b.
Menemukan Dunia Luar
Hanya komunikasi
interpersonal menjadikan kita dapat memahami lebih banyak tentang diri kita dan
orang lain yang berkomunikasi dengan kita. Banyak informasi yang kita ketahui
datang dari komunikasi interpersonal, meskipun banyak jumlah informasi yang
datang kepada kita dari media massa hal itu seringkali didiskusikan dan
akhirnya dipelajari
atau didalami melalui
interaksi interpersonal.
c. Membentuk Dan Menjaga Hubungan Yang
Penuh Arti
Salah satu keinginan
orang yang paling besar adalah membentuk dan memelihara hubungan dengan orang
lain. Banyak dari waktu kita pergunakan dalam komunikasi interpersonal diabadikan
untuk membentuk dan menjaga hubungan sosial dengan orang lain.
d.Berubah Sikap Dan Tingkah Laku
Banyak waktu kita
pergunakan untuk mengubah sikap dan tingkah laku orang lain dengan pertemuan
interpersonal. Kita boleh menginginkan mereka memilih cara tertentu, misalnya
mencoba diet yang baru, membeli barang tertentu, melihat film, menulis membaca
buku, memasuki bidang tertentu dan percaya bahwa sesuatu itu benar atau salah. Kita
banyak
menggunakan waktu waktu
terlibat dalam posisi interpersonal.
e.
Untuk Bermain Dan
Kesenangan
Bermain mencakup semua
aktivitas yang mempunyai tujuan utama adalah mencari kesenangan. Berbicara
dengan teman mengenai aktivitas kita pada waktu akhir pecan, berdiskusi
mengenai olahraga, menceritakan cerita dan cerita lucu pada umumnya hal itu
adalah merupakan pembicaraan yang untuk menghabiskan waktu. Dengan melakukan
komunikasi interpersonal semacam itu dapat memberikan keseimbangan yang penting
dalam pikiran yang memerlukan rileks dari semua keseriusan di lingkungan kita.
f. Untuk Membantu
Ahli-ahli kejiwaan, ahli
psikologi klinis dan terapi menggunakkan komunikasi interpersonal dalam
kegiatan profesional mereka untuk mengarahkan kliennya. Kita semua juga
berfungsi membantu orang lain dalam interaksi interpersonal kita sehari-hari.
Kita berkonsultasi dengan seorang teman yang putus cinta, berkonsultasi dengan
mahasiswa tentang mata kuliah yang sebaiknya diambil dan lain sebagainya.
Efektivitas Komunikasi Interpersonal
Efektivitas Komunikasi
Interpersonal dimulai dengan lima kualitas umum yang dipertimbangkan yaitu
keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness),
sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality). ( Devito, 1997,
p.259-264 ).
1. Keterbukaan
(Openness)
Kualitas keterbukaan
mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama,
komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang yang
diajaknya berinteraksi. Ini tidaklah berarti bahwa orang harus dengan segera
membukakan semua riwayat hidupnya.memang ini mungkin menarik, tapi biasanya
tidak membantu komunikasi. Sebaliknya, harus ada kesediaan untuk membuka diri
mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan, asalkan pengungkapan diri
ini patut.
Aspek keterbukaan yang
kedua mengacu kepada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap
stimulus yang datang. Orang yang diam, tidak kritis, dan tidak tanggap pada
umumnya merupakan peserta percakapan yang menjemukan. Kita ingin orang bereaksi
secara terbuka terhadap apa yang kita ucapkan. Dan kita berhak mengharapkan hal
ini. Tidak ada yang lebih buruk daripada ketidak acuhan, bahkan
ketidaksependapatan jauh lebih menyenangkan.
Kita memperlihatkan
keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan terhadap orang lain.
Aspek ketiga menyangkut
kepemilikan perasaan dan pikiran (Bochner dan Kelly, 1974). Terbuka dalam
pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang anda lontarkan
adalah memang milik anda dan anda bertanggungjawab atasnya. Cara terbaik untuk
menyatakan tanggung jawab ini adalah dengan pesan yang menggunakan kata Saya
(kata ganti orang pertama tunggal).
2. Empati (empathy)
Henry Backrack (1976)
mendefinisikan empati sebagai kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang
sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang
lain itu, melalui kacamata orang lain itu. Bersimpati, di pihak lain adalah
merasakan bagi orang lain atau merasa ikut bersedih. Sedangkan berempati adalah
merasakan sesuatu seperti orang yang mengalaminya, berada di kapal yang sama
dan merasakan perasaan yang sama dengan cara yang sama.
Orang yang empatik mampu
memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta
harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang.
Kita dapat
mengkomunikasikan empati baik secara verbal maupun non verbal. Secara
nonverbal, kita dapat mengkomunikasikan empati dengan memperlihatkan:
(1) keterlibatan aktif
dengan orang itu melalui ekspresi wajah dan gerak-gerik yang sesuai
(2) konsentrasi terpusat meliputi komtak mata,
postur tubuh yang penuh perhatian, dan kedekatan fisik
(3) sentuhan atau
belaian yang sepantasnya.
3. Sikap mendukung
(supportiveness)
Hubungan interpersonal
yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (supportiveness).
Suatu konsep yang perumusannya dilakukan berdasarkan karya Jack Gibb.
Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana yang
tidak mendukung. Kita memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap
deskriptif, bukan evaluatif, spontan, bukan strategic, dan provisional, bukan
sangat yakin.
4. Sikap positif
(positiveness)
Kita mengkomunikasikan
sikap positif dalam komunikasi interpersonal dengan sedikitnya dua cara:
(1) menyatakan sikap positif
(2) secara positif mendorong orang yang
menjadi teman kita berinteraksi.
Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua
aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina
jika seseorang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri.
Kedua, perasaan positif
untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi yang
efektif. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkomunikasi dengan orang
yang tidak menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara menyenangkan terhadap
situasi atau suasana interaksi.
5. Kesetaraan (Equality)
Dalam setiap situasi,
barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih pandai. Lebih
kaya, lebih tampan atau cantik, atau lebih atletis daripada yang lain. Tidak
pernah ada dua orang yang benar-benar setara dalam segala hal. Terlepas dari
ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila
suasananya setara. Artinya,, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua
pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai
sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam suatu hubungan interpersonal
yang ditandai oleh kesetaraan,ketidak-sependapatan dan konflik lebih dillihat
sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai
kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain.kesetaraan tidak mengharuskan kita
menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak
lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau menurut istilah Carl
rogers, kesetaraan meminta kita untuk memberikan penghargaan positif tak
bersyarat kepada orang lain.
Iklim Organisasi
Stinger (Wirawan, 2007) mendefinisikan bahwa iklim organisasi sebagai koleksi
dan pola lingkungan yang menentukan munculnya motivasi serta berfokus
pada persepsi-persepsi yang masuk akal atau dapat dinilai, sehingga mempunyai
pengaruh langsung terhadap kinerja anggota organisasi. Tagiuri dan Litwin
mengatakan bahwa iklim organisasi merupakan kualitas lingkungan internal
organisasi yang secara relatif terus berlangsung, dialami oleh anggota
organisasi dan mempengaruhi perilaku mereka serta dapat dilukiskan dalam satu
set karateristik atau sifat organisasi.
Kemudian dikemukakan oleh Luthans (Simamora, 2004) disebutkan bahwa iklim
organisasi adalah lingkungan internal atau psikologi organisasi. Iklim
organisasi mempengaruhi praktik dan kebijakan SDM yang diterima oleh anggota
organisasi. Perlu diketahui bahwa setiap organisasi akan memiliki iklim
organisasi yang berbeda. Keanekaragaman pekerjaan yang dirancang di dalam
organisasi, atau sifat individu yang ada akan menggambarkan perbedaan tersebut.
Semua organisasi tentu memiliki strategi dalam memanajemen SDM. Iklim
organisasi yang terbuka memacu karyawan untuk mengutarakan kepentingan dan ketidakpuasan
tanpa adanya rasa takut akan tindakan balasan dan perhatian. Ketidakpuasan
seperti itu dapat ditangani dengan cara yang positif dan bijaksana.
Griffin (2003) dalam A First Look at Communication Theory, membahas komunikasi
organisasi mengikuti teori management klasik, yang menempatkan suatu bayaran
pada daya produksi, presisi, dan efisiensi. Adapun prinsip-prinsip dari teori
management klasikal adalah sebagai berikut:
a) kesatuan komando- suatu karyawan hanya menerima pesan dari satu atasan
b) rantai skalar- garis otoritas dari atasan ke bawahan, yang bergerak dari
atas sampai ke bawah untuk organisasi; rantai ini, yang diakibatkan oleh
prinsip kesatuan komando, harus digunakan sebagai suatu saluran untuk
pengambilan keputusan dan komunikasi.
c) divisi pekerjaan- manegement perlu arahan untuk mencapai suatu derajat
tingkat spesialisasi yang dirancang untuk mencapai sasaran organisasi dengan
suatu cara efisien.
d) tanggung jawab dan otoritas- perhatian harus dibayarkan kepada hak untuk
memberi order dan ke ketaatan seksama; suatu ketepatan keseimbangan antara
tanggung jawab dan otoritas harus dicapai.
e) disiplin- ketaatan, aplikasi, energi, perilaku, dan tanda rasa hormat yang
keluar seturut kebiasaan dan aturan disetujui.
f) mengebawahkan kepentingan individu dari kepentingan umum- melalui contoh
peneguhan, persetujuan adil, dan pengawasan terus-menerus.