Senin, 21 November 2016

Psikologi Management Tugas ke 3

A.   Manajemen Sumber Daya Manusia

1.      Contoh rekrutment HRD

Rumah Sakit Budhi Asih Cawang membutuhkan staff  HRD  yang professional dengan syarat sebagai betikut:

·         Pria atau Wanita
·         Minimal lulusan S1 Psikologi
·         Rajin, jujur, ulet, daninsiatif
·         Memahami alat test psikologi dan administrasi
·         Mampu bekerja di dalam tim atau individu
·         Memiliki kemampuan public speaking yang baik
·         Memiliki Surat Keterangan Tata Cara Pendaftaran Kepolisian (SKCK)
Lamaran anda dapat anda kirim kan ke alamat Jl. Dewi Sartika No. 200, Cawang, Kramatjati, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13640.
2.      Dibutuhkan segera Staff Accounting dengan syarat sebagai berikut:

·         Pria atau wanita
·         Minimal lulusan S1 Akutansi
·         Status belum menikah
·         Usia minimal 24 tahun
·         Pengalaman minimal 1 tahun bekerja di perusahaan
·         Mengerti microsoft Word dan Excel
Kirimkan lamaran anda ke Jl. Duren Tiga raya no.26 Jakarta Selatan.
3.      Dibutuhkan segera dan secepatnya karyawan/ti yang akan di tempatkan di bagian Operasi Produksi dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut :
·         Pria atau wanita
·         Minimal lulusan SMA/SMK (sederajat)
·         Usia minimal 19-25 tahun
·          Status belum menikah
Anda dapat mengirimkan CV dan lampirkan pas foto (terbaru) berwarna ukuran 3x4 (3 lembar) ke alamat Jl. Kemang raya No.39 Jakarta Selatan.


B. Manajemen Pemasaran



C. Manajemen Operasional atau Produksi
     Linda’s Cattering memberikan anda rasa, aroma dan kenikmatan masakan dengan kualitas bersaing, produk kami sudah di pasarkan ke Tasikmalaya (Jawa Barat), Bandung (Jawa Barat) dan JABODETABEK.


Minggu, 16 Oktober 2016

 “Komunikasi interpersonal efektif”

Yadha Apriliyanti S. (1c514341)

Komunikasi Interpersonal Efektif
Komunikasi interpersonal efektif dalam organisasi yang mencakup Componential dan Situational.
Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui belikannya.
Menurut Effendi, komunikasi interpersonal merupakan komunikasi antar komunikator dengan komunikan, dimana komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang, karena sifatnya yang dialogis yaitu berupa percakapan.
Arni Muhammad (2009, 159) mendefensikan “Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi di antara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. Dengan bertambahnya orang yang terlibat dalam komunikasi, menjadi bertambahlah persepsi orang dalam kejadian komunikasi sehingga bertambah komplekslah komunikasi tersebut. Komunikasi interpersonal adalah membentuk hubungan dengan orang lain.

Hafied Cangara (2006, 31) memberikankan pengertian bahwa komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi ialah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka.

Burhan Bungin (2008, 32) menjelaskan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar-perorangan yang bersifat pribadi baik yang terjadi secara langsung (tanpa medium) maupun tidak langsung (melalui medium). Contohnya kegiatan percakapan tatap muka, percakapan melalui telepon, surat menyurat pribadi. Fokus pengamatannya adalah bentuk-bentuk dan sifat hubungan (relationship), percakapan (discourse), interaksi dan karakteristik komunikator.

Menurut Onong Uchjana Effendy
(2007, 15) umpan balik dalam komunikasi interpersonal dapat langsung diketahui karena komunikasi dilakukan dengan tatap muka (face to face communication) dan tanggapan komunikan dapat segera diketahui.

Indriyo Gitosudarmo dan Agus Mulyono (2001, 196) mengartikan bahwa komunikasi interpersonal merupakan komunikasi tatap muka (face to face) ini merupakan hal yang penting bagi seorang manager atau pemimpin. Keberhasilan dalam komunikasi ini merupakan faktor penentu bagi keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan
Menurut Agus M. Hardjana (2003:85) Komunikasi interpersonal adalah interaksi tatap muka antar dua atau beberapa orang, dimana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung, dan penerima pesan dapat menerima dan menanggapi secara langsung pula.

Menurut Deddy Mulyana (2000:73) Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal atau nonverbal. Komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi yang hanya dua orang, seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya.

Dari berbagai defenisi di atas dapat dinyatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terjadi secara langsung atau tatap muka baik antara seseorang dengan seseorang maupun dengan kelompok, komunikasi ini sangat efektif karena dapat langsung diketahui respon dari komunikan.
Menurut Agus M. Hardjana (2003:85) Komunikasi interpersonal adalah interaksi tatap muka antar dua atau beberapa orang, dimana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung, dan penerima pesan dapat menerima dan menanggapi secara langsung pula.


Komunikasi dapat dikatakan efektif apa bila komunikasi yang di lakukan dimana:
1.      Pesan dapat diterima dan dimengerti serta dipahami sebagaimana yang dimaksud oleh pengirimnya.
2.      Tidak ada hambatan yang berarti untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk menundak lanjuti pesan yang dikirim.

Komunikasi interpersonal efektif adalah komunikasi yang terkandung dalam tatap muka dan saling mempengaruhi, mendengarkan, menyampaikan pernyataan, keterbukaan, kepekaan yang merupakan cara paling efektif dalam mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung.

Secara sederhana, komunikasi adalah proses penyampaian atau transfer dan pemahaman suatu pengertian (meaning). Jadi dalam berkomunikasi, kita harus efektif menyampaikan pesan yang ada pada kita kepada orang lain. Adapun berkomunikasi secara langsung dan sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Karena dapat mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung. Proses berkomunikasi dimulai dari adanya pesan yang akan disampaikan oleh pengirim, kemudian ditransfer melalui suatu channel (saluran), kemudian diterima oleh penerima. Adapun komunikasi interpersonal efektif dalam suatu organisasi mencakup dua bagian yaitu componential dan situational.
1. Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi dengan mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
2. Situasional
Interaksi tatap muka antara dua orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung disekitarnya.

B. Model Pengolahan Informasi Komunikasi
Model Pengolahan Informasi pada dasarnya menitikberatkan dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri) manusia untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya, serta mengembangkan bahasa untuk mengungkapkannya
Model pengolahan informasi dibawah ini ada 4 yaitu:
1.      Rational.
2.      Limited capacity
3.       Expert
4.       Cybernetic

A.                Model interaktif manajemen dalam komunikasi

1.      Confidence
Dalam manajemen timbulnya suatu interaksi karena adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.

2.      Immediacy
Ini adalah model organisasi yang membuat suatu organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan

3.      Interaction management
Adanya berbagai interaksi dalam manajemen seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan

4.      Expressiveness
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.

5.      Other-orientation

Klasifikasi Komunikasi Interpersonal
Redding yang dikutip Muhammad (2004, p. 159-160) mengembangkan klasifikasi komunikasi interpersonal menjadi interaksi intim, percakapan sosial, interogasi atau pemeriksaan dan wawancara.

a.       Interaksi intim termasuk komunikasi di antara teman baik, anggota famili, dan orang-orang yang sudah mempunyai ikatan emosional yang kuat.

b.       Percakapan sosial adalah interaksi untuk menyenangkan seseorang secara sederhana. Tipe komunikasi tatap muka penting bagi pengembangan hubungan informal dalam organisasi. Misalnya dua orang atau lebih bersama-sama dan berbicara tentang perhatian, minat di luar organisasi seperti isu politik, teknologi dan lain sebagainya.

 c.. Interogasi atau pemeriksaan adalah interaksi antara seseorang yang ada dalam kontrol,  yang meminta atau bahkan menuntut informasi dari yang lain. Misalnya seorang karyawan dituduh mengambil barang-barang organisasi maka atasannya akan menginterogasinya untuk mengetahui kebenarannya.
 d. Wawancara adalah salah satu bentuk komunikasi interpersonal di mana dua orang terlibat dalam percakapan yang berupa tanya jawab. Misalnya atasan yang mewawancarai bawahannya untuk mencari informasi mengenai suatu pekerjaannya.

Tujuan Komunikasi Interpersonal

a.       Menemukan Diri Sendiri

Salah satu tujuan komunikasi interpersonal adalah menemukan personal atau pribadi. Bila kita terlibat dalam pertemuan interpersonal dengan orang lain kita belajar banyak sekali tentang diri kita maupun orang lain.
Komunikasi interpersonal memberikan kesempatan kepada kita untuk berbicara tentang apa yang kita sukai, atau mengenai diri kita. Adalah sangat menarik dan mengasyikkan bila berdiskusi mengenai perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita sendiri. Dengan membicarakan diri kita dengan orang lain, kita memberikan sumber balikan yang luar biasa pada perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita.

b.      Menemukan Dunia Luar

Hanya komunikasi interpersonal menjadikan kita dapat memahami lebih banyak tentang diri kita dan orang lain yang berkomunikasi dengan kita. Banyak informasi yang kita ketahui datang dari komunikasi interpersonal, meskipun banyak jumlah informasi yang datang kepada kita dari media massa hal itu seringkali didiskusikan dan akhirnya dipelajari
atau didalami melalui interaksi interpersonal.

     c. Membentuk Dan Menjaga Hubungan Yang Penuh Arti

Salah satu keinginan orang yang paling besar adalah membentuk dan memelihara hubungan dengan orang lain. Banyak dari waktu kita pergunakan dalam komunikasi interpersonal diabadikan untuk membentuk dan menjaga hubungan sosial dengan orang lain.

     d.Berubah Sikap Dan Tingkah Laku

Banyak waktu kita pergunakan untuk mengubah sikap dan tingkah laku orang lain dengan pertemuan interpersonal. Kita boleh menginginkan mereka memilih cara tertentu, misalnya mencoba diet yang baru, membeli barang tertentu, melihat film, menulis membaca buku, memasuki bidang tertentu dan percaya bahwa sesuatu itu benar atau salah. Kita banyak
menggunakan waktu waktu terlibat dalam posisi interpersonal.

e.       Untuk Bermain Dan Kesenangan


Bermain mencakup semua aktivitas yang mempunyai tujuan utama adalah mencari kesenangan. Berbicara dengan teman mengenai aktivitas kita pada waktu akhir pecan, berdiskusi mengenai olahraga, menceritakan cerita dan cerita lucu pada umumnya hal itu adalah merupakan pembicaraan yang untuk menghabiskan waktu. Dengan melakukan komunikasi interpersonal semacam itu dapat memberikan keseimbangan yang penting dalam pikiran yang memerlukan rileks dari semua keseriusan di lingkungan kita.

f. Untuk Membantu
Ahli-ahli kejiwaan, ahli psikologi klinis dan terapi menggunakkan komunikasi interpersonal dalam kegiatan profesional mereka untuk mengarahkan kliennya. Kita semua juga berfungsi membantu orang lain dalam interaksi interpersonal kita sehari-hari. Kita berkonsultasi dengan seorang teman yang putus cinta, berkonsultasi dengan mahasiswa tentang mata kuliah yang sebaiknya diambil dan lain sebagainya.

Efektivitas Komunikasi Interpersonal
Efektivitas Komunikasi Interpersonal dimulai dengan lima kualitas umum yang dipertimbangkan yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality). ( Devito, 1997, p.259-264 ).

1. Keterbukaan (Openness)
Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Ini tidaklah berarti bahwa orang harus dengan segera membukakan semua riwayat hidupnya.memang ini mungkin menarik, tapi biasanya tidak membantu komunikasi. Sebaliknya, harus ada kesediaan untuk membuka diri mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan, asalkan pengungkapan diri ini patut.
Aspek keterbukaan yang kedua mengacu kepada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Orang yang diam, tidak kritis, dan tidak tanggap pada umumnya merupakan peserta percakapan yang menjemukan. Kita ingin orang bereaksi secara terbuka terhadap apa yang kita ucapkan. Dan kita berhak mengharapkan hal ini. Tidak ada yang lebih buruk daripada ketidak acuhan, bahkan ketidaksependapatan jauh lebih menyenangkan.
Kita memperlihatkan keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan terhadap orang lain.
Aspek ketiga menyangkut kepemilikan perasaan dan pikiran (Bochner dan Kelly, 1974). Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang anda lontarkan adalah memang milik anda dan anda bertanggungjawab atasnya. Cara terbaik untuk menyatakan tanggung jawab ini adalah dengan pesan yang menggunakan kata Saya (kata ganti orang pertama tunggal).

2. Empati (empathy)
Henry Backrack (1976) mendefinisikan empati sebagai kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu. Bersimpati, di pihak lain adalah merasakan bagi orang lain atau merasa ikut bersedih. Sedangkan berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang yang mengalaminya, berada di kapal yang sama dan merasakan perasaan yang sama dengan cara yang sama.
Orang yang empatik mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang.
Kita dapat mengkomunikasikan empati baik secara verbal maupun non verbal. Secara nonverbal, kita dapat mengkomunikasikan empati dengan memperlihatkan:
(1) keterlibatan aktif dengan orang itu melalui ekspresi wajah dan  gerak-gerik yang sesuai
 (2) konsentrasi terpusat meliputi komtak mata, postur tubuh yang penuh perhatian, dan kedekatan fisik
(3) sentuhan atau belaian yang sepantasnya.

3. Sikap mendukung (supportiveness)
Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (supportiveness). Suatu konsep yang perumusannya dilakukan berdasarkan karya Jack Gibb. Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak mendukung. Kita memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap deskriptif, bukan evaluatif, spontan, bukan strategic, dan provisional, bukan sangat yakin.

4. Sikap positif (positiveness)
Kita mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi interpersonal dengan sedikitnya dua cara:
 (1) menyatakan sikap positif
 (2) secara positif mendorong orang yang menjadi teman kita berinteraksi.
 Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika seseorang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri.
Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi yang efektif. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkomunikasi dengan orang yang tidak menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara menyenangkan terhadap situasi atau suasana interaksi.

5. Kesetaraan (Equality)
Dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih pandai. Lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau lebih atletis daripada yang lain. Tidak pernah ada dua orang yang benar-benar setara dalam segala hal. Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya,, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan,ketidak-sependapatan dan konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain.kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau menurut istilah Carl rogers, kesetaraan meminta kita untuk memberikan penghargaan positif tak bersyarat kepada orang lain.

Iklim Organisasi 

Stinger (Wirawan, 2007) mendefinisikan bahwa iklim organisasi sebagai koleksi dan pola lingkungan yang menentukan munculnya motivasi serta berfokus  pada persepsi-persepsi yang masuk akal atau dapat dinilai, sehingga mempunyai pengaruh langsung terhadap kinerja anggota organisasi. Tagiuri dan Litwin mengatakan bahwa iklim organisasi merupakan kualitas lingkungan internal organisasi yang secara relatif terus berlangsung, dialami oleh anggota organisasi dan mempengaruhi perilaku mereka serta dapat dilukiskan dalam satu set karateristik atau sifat organisasi. 
Kemudian dikemukakan oleh Luthans (Simamora, 2004) disebutkan bahwa iklim organisasi adalah lingkungan internal atau psikologi organisasi. Iklim organisasi mempengaruhi praktik dan kebijakan SDM yang diterima oleh anggota organisasi. Perlu diketahui bahwa setiap organisasi akan memiliki iklim organisasi yang berbeda. Keanekaragaman pekerjaan yang dirancang di dalam organisasi, atau sifat individu yang ada akan menggambarkan perbedaan tersebut. Semua organisasi tentu memiliki strategi dalam memanajemen SDM. Iklim organisasi yang terbuka memacu karyawan untuk mengutarakan kepentingan dan ketidakpuasan tanpa adanya rasa takut akan tindakan balasan dan perhatian. Ketidakpuasan seperti itu dapat ditangani dengan cara yang positif dan bijaksana.
Griffin (2003) dalam A First Look at Communication Theory, membahas komunikasi organisasi mengikuti teori management klasik, yang menempatkan suatu bayaran pada daya produksi, presisi, dan efisiensi. Adapun prinsip-prinsip dari teori management klasikal adalah sebagai berikut: 
a) kesatuan komando- suatu karyawan hanya menerima pesan dari satu atasan 
b) rantai skalar- garis otoritas dari atasan ke bawahan, yang bergerak dari atas sampai ke bawah untuk organisasi; rantai ini, yang diakibatkan oleh prinsip kesatuan komando, harus digunakan sebagai suatu saluran untuk pengambilan keputusan dan komunikasi. 
c) divisi pekerjaan- manegement perlu arahan untuk mencapai suatu derajat tingkat spesialisasi yang dirancang untuk mencapai sasaran organisasi dengan suatu cara efisien. 
d) tanggung jawab dan otoritas- perhatian harus dibayarkan kepada hak untuk memberi order dan ke ketaatan seksama; suatu ketepatan keseimbangan antara tanggung jawab dan otoritas harus dicapai. 
e) disiplin- ketaatan, aplikasi, energi, perilaku, dan tanda rasa hormat yang keluar seturut kebiasaan dan aturan disetujui. 
f) mengebawahkan kepentingan individu dari kepentingan umum- melalui contoh peneguhan, persetujuan adil, dan pengawasan terus-menerus. 




 

Jumat, 17 Juni 2016

Tugas Softskill


Tugas 4
Kesehatan Mental


1.    Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan hubungan.

Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.



a. Model Pertukaran Sosial
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, dua orang pemuka dari teori ini menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya“.

b.  Analisis Transaksional
Analisis transaksional ( AT ) adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam terapi individual, terapi lebih cocok untuk di gunakan dalam terapi kelompok. AT berbeda dengan sebagian besar terapi lain dalam arti ia adalah suatu kontrakyang dibuat oleh klien, yang dengan jelas menyatakan tujuan – tujuan dan arah proses terapi. AT juga berfokus pada putusan – putusan awal yang di buat oleh klien, dan menekankan kemampuan klien untuk membuat putusan – putusan baru. AT menekankan aspek – aspek kognitif – rasional – behavioral dan berorientasi  kepada peningkatan kesadran sehingga klien akan mampu membuat putusan – putusan  baru dan mengubah cara hidupnya.

c. Memulai suatu hubungan
I.  pembentukan kesan dan ketertarikan Interpersonal dalam memulai hubungan

1. Pembentukan Kesan
Menurut sears dkk(1992) individu cenderung membentuk kesan yang sangat panjang atas orang lain berdasarkan informasi yang terbatas.
-Evaluasi: kesan pertama, yang aspek pertamanya paling penting dan kuat adalah evaluasi. Secara formal dimensi evaluasi merupakan dimensi terpenting diantara sejumlah dimensi dasar yang mngorganisasikan kesan gabungan tentang orang lain.
-Kesan menyeluruh: untuk menjelaskan bagaimana orang mengevaluasi terhadap orang-orang lain, dapat dilakukan dari kesan yang diterima secara keseluruhan.
-Konsistensi: Individu cenderung membentuk karakteristik yang konsisten secara evaluative terhadap individu lainnya.
-Pransangka positif: kecenderungan menilai orang lain secara positif sehingga mengalahkan evaluasi negative.

2.    Ketertarikan Interpersonal
-         Prinsip dasar daya tarik interpersonal
Penguat: kita menyukai orang lain dengan cara memberi sutu imbalan atau hadiah sebagai penguat dari tindakan atau sikap kita. Contoh hadia atau ganjaran yang penting adalah persetujuan social dan banyak penelitian memperlihatkan bahwa kita cenderung menyukai orang lain yang cenderung menilai kita secara positif.

-         Pertukaran social
Pertukaran social menyatakan bahwa rasa suka kita kepada orang lain didasarkan pada penilaian kira terhadap kerugian dan keuntungan yang diberikan seseorang kepada kita. Teori ini memfokuskan bahwa kita membuat penilaian koparatif menilai keuntungan yang kita peroleh dari sesorang dibandingkan dengan keuntungan yang kita peroleh dari orang lain.

-         Asosiasi
Kita menjadi suka kepada orang yang di asosiasikan (dihubungkan) dengan pengalaman yang baik/bagus dan tidak suka kepada orang yang diasosiasikan dengan pengalamn buruk/jelek.

3.    3. Model peran
 Model peran konflik adequacy peran serta auntensitas dalam hubungan peran.
1.      Model peran
Menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya
2.      Model Interaksional
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat strukural, integratif dan medan. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Selanjutnya, semua sistem mempunyai kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan. Bila ekuilibrium dari sistem terganggu, segera akan diambil tindakannya. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan.
Pemutusan Hubungan
a)    Menurut R.D. Nye dalam bukunya yang berjudul Conflict Among
Humans, setidaknya ada lima sumber konflik yang dapat menyebabkan pemutusan hubungan, yaitu: Kompetisi dimana salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain. Misalnya, menunjukkan kelebihan dalam bidang tertentu dengan merendahkan oranglain.
b)    Dominasi, dimana salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang tersebut merasakan hak-haknya dilanggar.
c)    Kegagalan, dimana masing-masing berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan bersama tidak tercapai.
d)    Provokasi, dimana salah satu pihak terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan yang lain.
e)    Perbedaan nilai dimana kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.

4.   Jenis hubungan Interpersonal

Berdasarkan individu yang terlibat;
a.    hubungan diad.
Hubungan antar dua individu, kebanyakan hubungan kita dengan orang lain bersifat diadik. William Wilmot mengemukakan bebera[a cirri khas hubungan diad, dimana setiap hubungan memiliki tujuan khusus.
b.    Hubungan Triad.
Hubungan antara tiga orang. Hubungan triad ini memiliki cirri lebih kompleks. Tingkat keintiman/kedekatan antar individu lebih rendah dan keputusan yang di ambil lebih didasarkan voting atau suara terbanyak melewati negoisasi.

4.1.        berdasarkan tujuan yang dicapai.
a.    hubungan tugas
merupakan sebuah hubungan yang terbentuk karena tujuan menyelesaikan sesuatu yang tidak berbau klinis, hubungan mahasiswa dalam kelompok untuk mengerjakan tugas dan lainnya.
b.    Hubungan Sosial.
              Merupakan hubunganyang tidak berbentuk dengan tujuan untuk menyelesaikan sesuatu. Contoh; hubungan sahabat dekat, hubungan dua orang kenalan saat makan siang dan sebagainya.                                      

4.2.       Berdasarkan jangka waktu.
a.    Hubungan jangka pendek.
Hubungan yang hanya berlangsung sebentar.
b.    Hubungan jangka panjang.
Berlangsung dalam waktu yang lama, semakin lama suatu hubungan semakin banyak investasi yang di tanam didalamnya. Misal; emosi atau perasaan, materi, waktu, komitmen dan sebagainya).
5.   Faktor yang mempengaruhi hubungan Interpersonal.
Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi hubungan interpersonal, yaitu;
a.    Komunikasi efektif
b.    Ekspresi wajah
c.    Kepribadian
d.    Stereotyping
e.    Daya tarik
f.    Ganjaran
g.    Kompetensi.


4. Intimasi dan hubungan Individu
Intimasi dapat dilakukan terhadap teman atau kekasih (elemen emosional: keakraban,keinginan untuk mendekat, memahami kehangatan, menghargai, kepercayaan). Intimasi mengandung pengertian sebagai elemen afeksi yang mendorong individu untuk selalu melakukan kedekatan emosional dengan orang yang dicintainya. Dorongan ini menyebabkan individu bergaul lebih akrab, hangat, menghargai, menghormati dan mempercayai pasangan yang dicintai dibandingkan dengan orang yang tidak di cintai. Masing-masing individu merasa saling membutuhkan dan melengkapi antar satu sama lain dalam segala hal, masing-masing merasa tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan pasangan hidup sisinya maka setiap orang merasa intim dengan seseorang yang mereka cintai.
4.4
2.  Cinta dan perkawinan

2.1.       Kasus perkawinan yang sehat
Perkawinan merupakan jawaban bagi masalah kekosongan eksistensial manusia. Orang dapat saling memberi dan menerima cinta secara eksklusif. Setiap pasangan berpeluang untuk bersama-sama mengembangkan diri menjadi pribadi yang sehat dan matang.
Pada dasarnya manusia memang di takdirkan untuk hidup berpasang-pasangan. Manusia dapat menemukan apa arti hidupnya dalam perkawinan. Sebagian orang menganggap bahwa perkawinan membatasi kebebasannya, tetapi bagaimanapun sebagian besar dari kita dapat mengakui bahwa perkawinan memberikan jaminan ketenteraman hidup.


2.2.             Kunci Pernikahan yang Sehat dan Langgeng

·         Komunikasi
Yang dimaksud bukan sekadar berbicara, tapi juga mendengarkan. Bila Anda sudah mulai malas mendengarkan pasangan berbicara, berarti Anda telah kehilangan komunikasi.Tunjukkan sikap yang baik dalam berkomunikasi, yaitu mendengarkan pasangan berbicara sampai selesai, sebelum Anda mengutarakan pendapat Anda sendiri. Ingat, perkawinan adalah timbal-balik di antara dua orang. Semua pihak ingin punya kesempatan berbicara dan hak untuk didengar.
·         Kejujuran
Banyak pasangan mengaku, kejujuranlah yang membuat perkawinan mereka bertahan lama. Memang, mengakui dengan jujur kesalahan dan kekhilafan, tak jarang pahit didengarkan, tapi kejujuran akan menyelamatkan hubungan.
·         Saling Menghargai
Hubungan perkawinan yang sukses memandang pasangannya sederajat (equal). Jalani perkawinan dengan saling menghargai satu sama lain.
·         Saling Percaya
Jangan menghabiskan pikiran untuk terus-terusan tegang dan curiga pada pasangan. Jika suami terlambat pulang dengan alasan lalu-lintas macet, buat apa selalu menjadikannya
bahan kecurigaan. Janganlah kecurigaan kecil menjadi ancaman dalam perkawinan.
·         Pasangan Adalah Teman
Jadikan pasangan Anda sebagai teman saat suka dan duka, sebab cinta yang awet membutuhkan persahabatan, bukan sekadar emosi.
·         Humor
Percintaan yang diselingi humor akan menyejukkan suasana. Jangan ragu untuk tertawa bersama pasangan, termasuk menertawakan hal-hal yang remeh sekalipun.

Salah satunya kasus perkawinan yang sedang banyak terjadi saat ini:

Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya

Pernikahan usia dini telah banyak berkurang di berbagai belahan negara dalam tigapuluh tahun terakhir, namun pada kenyataannya masih banyak terjadi di negara berkembang terutama di pelosok terpencil. Pernikahan usia dini terjadi baik di daerah pedesaan maupun perkotaan di Indonesia serta meliputi berbagai strata ekonomi dengan beragam latarbelakang.1 

Berdasarkan Survei Data Kependudukan Indonesia (SDKI) 2007, di beberapa daerah didapatkan bahwa sepertiga dari jumlah pernikahan terdata dilakukan oleh pasangan usia di bawah 16 tahun. Jumlah kasus pernikahan dini di Indonesia mencapai 50 juta penduduk dengan rata-rata usia perkawinan 19,1 tahun. Di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Jawa Barat, angka kejadian pernikahan dini berturut-turut 39,4%, 35,5%, 30,6%, dan 36%. Bahkan di sejumlah pedesaan, pernikahan seringkali dilakukan segera setelah anak perempuan mendapat haid pertama.2 

Menikah di usia kurang dari 18 tahun merupakan realita yang harus dihadapi sebagian anak di seluruh dunia, terutama negara berkembang.3-6 Meskipun Deklarasi Hak Asasi Manusia di tahun 1954 secara eksplisit menentang pernikahan anak, namun ironisnya, praktek pernikahan usia dini masih berlangsung di berbagai belahan dunia dan hal ini merefleksikan perlindungan hak asasi kelompok usia muda yang terabaikan.3 Implementasi Undang-Undangpun seringkali tidak efektif dan terpatahkan oleh adat istiadat serta tradisi yang mengatur norma sosial suatu kelompok masyarakat.4-6

3.Pekerjaan dan waktu luang
3.1 Pekerjaan.
          Pekerjaan dinilai sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk kemajuan individu sendiri, baik kemajuan rohani maupun jasmani. Pekerjaan memerlukan pemikiran yang sadar sehingga bisa dengan bebas dapat mengarahkan kegiatannya kepada suatu tujuan tertentu.
          Tujuan yang dicari dalam pekerjaan adalah menjadikan pekerjaan menjadi ‘baik’, baik disini maksudnya adala menjadikan pekerja lebih gmemenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga.

a.    Nilai pekerjaan
Nilai dari apa yang kita kerjakan sebenarnya yang sangat bergantung kepada cara berpikir kita terhadap pekerjaan itu. Sekecil apapun itu yang sudah kita lakukan, jika kita memahami apa pekerjaan itu adalah bagian dari sebuah perencanaan/ usaha besar atau sebagai proses menuju terwujudnya sesuatu yang besar.
b.    Apa yang kita cari dalam pekerjaan?
-         Mencari uang
Hal ini adalah tujuan dasar seseorang mencari pekerjaan,apalagi untuk mencari nafkah, untuk mencukupi kehidupannya. Banyak orang pun berpindah-pindah pekerjaan hanya untuk mencari gaji yang tinggi.
-         Mencari pengembangan diri.
Tabiat manusia untuk ingin berkembang menjadi lebih baik.
-         Mencari teman/sarana bersosialisasi.
Manusia adalah makluk social yang perlu bahkan sangat butuh untuk bersosialisasi. Maka manusia perlu bekerja untuk menambah teman dan relasi mereka.
-         Sebagai ibadah.
Hal ini saya yakini ada dan pastinya dimiliki orang, walau mungkin jarang terpikirkan sebagai halnya yang dicari dalam bekerja. Sebagai orang yang beriman memang harus setiap tindakan kita diduia harus dimaknai sebagai ibadah.

c.    Fungsi psikologi dalam pekerjaan.
Fungsinya adalah meskipun apa kata orag tentang memiliki pekerjaan untuk hidup. Itu mungkin jelas sekarang bahwa setiap orang bekerja keras untuk uangnya sendiri. Kenyataannya adalah bekerja itumemenugi kebutuhan psikologis dan social yang penting(Renwick&Lawler,1978).

3.2.      waktu luang
     Proses dalam memilih sebuah pekerjaan dan yang terpenting dalam menemukan pekerjaan yang cocok dengan minat dan bakat. Kepuasan kerja menuntut setiap orang untuk bekerja pentungnya dengan waktu luang.
     Waktu luang adalah waktu sela diantara waktu yang diperuntukkan bagi pekerjaan utama. Tidak ada yang suka bekerja sepanjang waktu. Sebagian besar dari kita menginginkan pergi ke sendiri dan dengan keluarga kita. Istilah tradisional yang digunakan untuk waktu tidak bekerja seperti itu liburan, secara harfiah berarti “waktu off bekerja atau tugas.” Kebanyakan dari kita berpikir bahwa kita memiliki waktu luang lebih baik. Namun peningkatan waktu luang sekarang menimbulkan masalah bagi banyak orang.

         a.  Menggunakan waktu luang secara positif
            
Banyak hal yang dapat dilakukan saat waktu luang, hal yang paling umum dilakukan seseorang saat waktu luang adalah pergi berlibur ke tempat tempat wisata atau pergi berkumpul bersama teman ataj keluarga, tak banyak dari mereka juga memanfaatkan waktu luang dengan cara meluapkan ide kreatif mereka ke dalam tulisan ataupun dengan gambar dan menghasilkan karya yang positif dan juga dapat menghasilkan pendapatan.
            Kebanyakan orang menghabiskan begitu banyak waktu luang dan kegiatan di tempat kerja, antara 30 dan 40 jam per minggu rata-rata. Hobby juga menjadi salah satu cara yang positif untuk menghabiskan waktu luang seperti berolahraga, bertukar pikiran dengan teman, dan berkumpul menghabiskan waktu untuk memikirkan suatu apa yang ingin dilakukan untuk kedepannya. Untuk saya sendiri saya lebih banyak meluangkan waktu luang saya untuk menghabiskannya berkumpul bersama teman-teman.


·         Jalaluddin Rakhmat, psikologi komunikasi, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 1996), hlm. 119Ibid, hlm. 120
·         Riyanti, B.P, Hendro, Prabowo. (1998). Psikologi Umum 2. Jakarta: Universitas Gunadarma