Tugas 4
Kesehatan Mental
1.
Hubungan
Interpersonal
Hubungan interpersonal adalah
dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan,
tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita
berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan hubungan.
Dari segi psikologi
komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal,
makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya
tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif komunikasi yang
berlangsung diantara komunikan.
a. Model Pertukaran Sosial
Model ini memandang hubungan
interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang
lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, dua orang pemuka
dari teori ini menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh
analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal
dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau
dari segi ganjaran dan biaya“.
b. Analisis Transaksional
Analisis transaksional (
AT ) adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam terapi
individual, terapi lebih cocok untuk di gunakan dalam terapi kelompok. AT
berbeda dengan sebagian besar terapi lain dalam arti ia adalah suatu
kontrakyang dibuat oleh klien, yang dengan jelas menyatakan tujuan – tujuan dan
arah proses terapi. AT juga berfokus pada putusan – putusan awal yang di buat
oleh klien, dan menekankan kemampuan klien untuk membuat putusan – putusan
baru. AT menekankan aspek – aspek kognitif – rasional – behavioral dan
berorientasi kepada peningkatan kesadran sehingga klien akan mampu
membuat putusan – putusan baru dan mengubah cara hidupnya.
c. Memulai suatu hubungan
I. pembentukan kesan dan ketertarikan Interpersonal
dalam memulai hubungan
1. Pembentukan Kesan
Menurut sears dkk(1992)
individu cenderung membentuk kesan yang sangat panjang atas orang lain
berdasarkan informasi yang terbatas.
-Evaluasi: kesan pertama,
yang aspek pertamanya paling penting dan kuat adalah evaluasi. Secara formal
dimensi evaluasi merupakan dimensi terpenting diantara sejumlah dimensi dasar
yang mngorganisasikan kesan gabungan tentang orang lain.
-Kesan menyeluruh: untuk
menjelaskan bagaimana orang mengevaluasi terhadap orang-orang lain, dapat
dilakukan dari kesan yang diterima secara keseluruhan.
-Konsistensi: Individu
cenderung membentuk karakteristik yang konsisten secara evaluative terhadap
individu lainnya.
-Pransangka positif:
kecenderungan menilai orang lain secara positif sehingga mengalahkan evaluasi
negative.
2.
Ketertarikan
Interpersonal
-
Prinsip
dasar daya tarik interpersonal
Penguat: kita menyukai orang lain dengan cara memberi sutu
imbalan atau hadiah sebagai penguat dari tindakan atau sikap kita. Contoh hadia
atau ganjaran yang penting adalah persetujuan social dan banyak penelitian
memperlihatkan bahwa kita cenderung menyukai orang lain yang cenderung menilai
kita secara positif.
-
Pertukaran
social
Pertukaran social menyatakan bahwa rasa suka kita kepada orang
lain didasarkan pada penilaian kira terhadap kerugian dan keuntungan yang
diberikan seseorang kepada kita. Teori ini memfokuskan bahwa kita membuat
penilaian koparatif menilai keuntungan yang kita peroleh dari sesorang
dibandingkan dengan keuntungan yang kita peroleh dari orang lain.
-
Asosiasi
Kita menjadi suka kepada
orang yang di asosiasikan (dihubungkan) dengan pengalaman yang baik/bagus dan
tidak suka kepada orang yang diasosiasikan dengan pengalamn buruk/jelek.
3.
3.
Model peran
Model
peran konflik adequacy peran serta auntensitas dalam hubungan peran.
1. Model
peran
Menganggap
hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus
memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat.
Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai
dengan peranannya
2. Model
Interaksional
Model
ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem
memiliki sifat-sifat strukural, integratif dan medan. Semua sistem terdiri dari
subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu
kesatuan. Selanjutnya, semua sistem mempunyai kecenderungan untuk memelihara
dan mempertahankan kesatuan. Bila ekuilibrium dari sistem terganggu, segera
akan diambil tindakannya. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari
tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan.
Pemutusan
Hubungan
a) Menurut
R.D. Nye dalam bukunya yang berjudul Conflict Among
Humans,
setidaknya ada lima sumber konflik yang dapat menyebabkan pemutusan hubungan,
yaitu: Kompetisi dimana salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan
mengorbankan orang lain. Misalnya, menunjukkan kelebihan dalam bidang tertentu
dengan merendahkan oranglain.
b) Dominasi,
dimana salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang
tersebut merasakan hak-haknya dilanggar.
c) Kegagalan,
dimana masing-masing berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan bersama
tidak tercapai.
d) Provokasi,
dimana salah satu pihak terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui
menyinggung perasaan yang lain.
e) Perbedaan
nilai dimana kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.
4.
Jenis hubungan Interpersonal
Berdasarkan
individu yang terlibat;
a. hubungan
diad.
Hubungan antar dua
individu, kebanyakan hubungan kita dengan orang lain bersifat diadik. William Wilmot
mengemukakan bebera[a cirri khas hubungan diad, dimana setiap hubungan memiliki
tujuan khusus.
b. Hubungan
Triad.
Hubungan
antara tiga orang. Hubungan triad ini memiliki cirri lebih kompleks. Tingkat keintiman/kedekatan
antar individu lebih rendah dan keputusan yang di ambil lebih didasarkan voting
atau suara terbanyak melewati negoisasi.
4.1.
berdasarkan tujuan yang dicapai.
a. hubungan
tugas
merupakan
sebuah hubungan yang terbentuk karena tujuan menyelesaikan sesuatu yang tidak
berbau klinis, hubungan mahasiswa dalam kelompok untuk mengerjakan tugas dan
lainnya.
b. Hubungan
Sosial.
Merupakan hubunganyang tidak
berbentuk dengan tujuan untuk menyelesaikan sesuatu. Contoh; hubungan sahabat
dekat, hubungan dua orang kenalan saat makan siang dan sebagainya.
4.2. Berdasarkan
jangka waktu.
a. Hubungan
jangka pendek.
Hubungan
yang hanya berlangsung sebentar.
b. Hubungan
jangka panjang.
Berlangsung
dalam waktu yang lama, semakin lama suatu hubungan semakin banyak investasi
yang di tanam didalamnya. Misal; emosi atau perasaan, materi, waktu, komitmen
dan sebagainya).
5.
Faktor yang mempengaruhi hubungan Interpersonal.
Terdapat
beberapa hal yang mempengaruhi hubungan interpersonal, yaitu;
a. Komunikasi
efektif
b. Ekspresi
wajah
c. Kepribadian
d. Stereotyping
e. Daya tarik
f. Ganjaran
g. Kompetensi.
4. Intimasi dan hubungan
Individu
Intimasi dapat dilakukan
terhadap teman atau kekasih (elemen emosional: keakraban,keinginan untuk
mendekat, memahami kehangatan, menghargai, kepercayaan). Intimasi mengandung
pengertian sebagai elemen afeksi yang mendorong individu untuk selalu melakukan
kedekatan emosional dengan orang yang dicintainya. Dorongan ini menyebabkan
individu bergaul lebih akrab, hangat, menghargai, menghormati dan mempercayai
pasangan yang dicintai dibandingkan dengan orang yang tidak di cintai. Masing-masing
individu merasa saling membutuhkan dan melengkapi antar satu sama lain dalam
segala hal, masing-masing merasa tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan
pasangan hidup sisinya maka setiap orang merasa intim dengan seseorang yang
mereka cintai.
4.4
2. Cinta dan perkawinan
2.1. Kasus perkawinan yang sehat
Perkawinan
merupakan jawaban bagi masalah kekosongan eksistensial manusia. Orang dapat
saling memberi dan menerima cinta secara eksklusif. Setiap pasangan berpeluang
untuk bersama-sama mengembangkan diri menjadi pribadi yang sehat dan matang.
Pada dasarnya manusia memang di takdirkan untuk
hidup berpasang-pasangan. Manusia dapat menemukan apa arti hidupnya dalam
perkawinan. Sebagian orang menganggap bahwa perkawinan membatasi kebebasannya,
tetapi bagaimanapun sebagian besar dari kita dapat mengakui bahwa perkawinan
memberikan jaminan ketenteraman hidup.
2.2. Kunci
Pernikahan yang Sehat dan Langgeng
· Komunikasi
Yang dimaksud bukan
sekadar berbicara, tapi juga mendengarkan. Bila Anda sudah mulai malas mendengarkan
pasangan berbicara, berarti Anda telah kehilangan komunikasi.Tunjukkan sikap
yang baik dalam berkomunikasi, yaitu mendengarkan pasangan berbicara sampai
selesai, sebelum Anda mengutarakan pendapat Anda sendiri. Ingat, perkawinan
adalah timbal-balik di antara dua orang. Semua pihak ingin punya kesempatan
berbicara dan hak untuk didengar.
· Kejujuran
Banyak pasangan mengaku,
kejujuranlah yang membuat perkawinan mereka bertahan lama. Memang, mengakui
dengan jujur kesalahan dan kekhilafan, tak jarang pahit didengarkan, tapi
kejujuran akan menyelamatkan hubungan.
· Saling
Menghargai
Hubungan perkawinan yang
sukses memandang pasangannya sederajat (equal). Jalani perkawinan dengan saling
menghargai satu sama lain.
· Saling
Percaya
Jangan menghabiskan
pikiran untuk terus-terusan tegang dan curiga pada pasangan. Jika suami
terlambat pulang dengan alasan lalu-lintas macet, buat apa selalu menjadikannya
bahan kecurigaan.
Janganlah kecurigaan kecil menjadi ancaman dalam perkawinan.
· Pasangan
Adalah Teman
Jadikan pasangan Anda
sebagai teman saat suka dan duka, sebab cinta yang awet membutuhkan
persahabatan, bukan sekadar emosi.
· Humor
Percintaan yang diselingi
humor akan menyejukkan suasana. Jangan ragu untuk tertawa bersama pasangan,
termasuk menertawakan hal-hal yang remeh sekalipun.
Salah satunya kasus perkawinan yang
sedang banyak terjadi saat ini:
Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya
Pernikahan usia dini telah banyak berkurang di berbagai
belahan negara dalam tigapuluh tahun terakhir, namun pada kenyataannya masih
banyak terjadi di negara berkembang terutama di pelosok terpencil. Pernikahan
usia dini terjadi baik di daerah pedesaan maupun perkotaan di Indonesia serta
meliputi berbagai strata ekonomi dengan beragam latarbelakang.1
Berdasarkan Survei Data Kependudukan Indonesia (SDKI) 2007, di beberapa daerah didapatkan bahwa sepertiga dari jumlah pernikahan terdata dilakukan oleh pasangan usia di bawah 16 tahun. Jumlah kasus pernikahan dini di Indonesia mencapai 50 juta penduduk dengan rata-rata usia perkawinan 19,1 tahun. Di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Jawa Barat, angka kejadian pernikahan dini berturut-turut 39,4%, 35,5%, 30,6%, dan 36%. Bahkan di sejumlah pedesaan, pernikahan seringkali dilakukan segera setelah anak perempuan mendapat haid pertama.2
Menikah di usia kurang dari 18 tahun merupakan realita yang harus dihadapi sebagian anak di seluruh dunia, terutama negara berkembang.3-6 Meskipun Deklarasi Hak Asasi Manusia di tahun 1954 secara eksplisit menentang pernikahan anak, namun ironisnya, praktek pernikahan usia dini masih berlangsung di berbagai belahan dunia dan hal ini merefleksikan perlindungan hak asasi kelompok usia muda yang terabaikan.3 Implementasi Undang-Undangpun seringkali tidak efektif dan terpatahkan oleh adat istiadat serta tradisi yang mengatur norma sosial suatu kelompok masyarakat.4-6
Berdasarkan Survei Data Kependudukan Indonesia (SDKI) 2007, di beberapa daerah didapatkan bahwa sepertiga dari jumlah pernikahan terdata dilakukan oleh pasangan usia di bawah 16 tahun. Jumlah kasus pernikahan dini di Indonesia mencapai 50 juta penduduk dengan rata-rata usia perkawinan 19,1 tahun. Di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Jawa Barat, angka kejadian pernikahan dini berturut-turut 39,4%, 35,5%, 30,6%, dan 36%. Bahkan di sejumlah pedesaan, pernikahan seringkali dilakukan segera setelah anak perempuan mendapat haid pertama.2
Menikah di usia kurang dari 18 tahun merupakan realita yang harus dihadapi sebagian anak di seluruh dunia, terutama negara berkembang.3-6 Meskipun Deklarasi Hak Asasi Manusia di tahun 1954 secara eksplisit menentang pernikahan anak, namun ironisnya, praktek pernikahan usia dini masih berlangsung di berbagai belahan dunia dan hal ini merefleksikan perlindungan hak asasi kelompok usia muda yang terabaikan.3 Implementasi Undang-Undangpun seringkali tidak efektif dan terpatahkan oleh adat istiadat serta tradisi yang mengatur norma sosial suatu kelompok masyarakat.4-6
3.Pekerjaan
dan waktu luang
3.1
Pekerjaan.
Pekerjaan dinilai sebagai kegiatan
manusia yang diarahkan untuk kemajuan individu sendiri, baik kemajuan rohani
maupun jasmani. Pekerjaan memerlukan pemikiran yang sadar sehingga bisa dengan
bebas dapat mengarahkan kegiatannya kepada suatu tujuan tertentu.
Tujuan yang dicari dalam pekerjaan
adalah menjadikan pekerjaan menjadi ‘baik’, baik disini maksudnya adala
menjadikan pekerja lebih gmemenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga.
a.
Nilai pekerjaan
Nilai dari apa yang kita kerjakan
sebenarnya yang sangat bergantung kepada cara berpikir kita terhadap pekerjaan
itu. Sekecil apapun itu yang sudah kita lakukan, jika kita memahami apa pekerjaan
itu adalah bagian dari sebuah perencanaan/ usaha besar atau sebagai proses
menuju terwujudnya sesuatu yang besar.
b.
Apa yang
kita cari dalam pekerjaan?
-
Mencari uang
Hal ini adalah tujuan dasar seseorang
mencari pekerjaan,apalagi untuk mencari nafkah, untuk mencukupi kehidupannya. Banyak
orang pun berpindah-pindah pekerjaan hanya untuk mencari gaji yang tinggi.
-
Mencari pengembangan
diri.
Tabiat manusia untuk ingin berkembang
menjadi lebih baik.
-
Mencari teman/sarana
bersosialisasi.
Manusia adalah makluk social yang perlu
bahkan sangat butuh untuk bersosialisasi. Maka manusia perlu bekerja untuk
menambah teman dan relasi mereka.
-
Sebagai ibadah.
Hal ini saya yakini ada dan pastinya
dimiliki orang, walau mungkin jarang terpikirkan sebagai halnya yang dicari
dalam bekerja. Sebagai orang yang beriman memang harus setiap tindakan kita
diduia harus dimaknai sebagai ibadah.
c.
Fungsi psikologi
dalam pekerjaan.
Fungsinya adalah meskipun apa kata orag
tentang memiliki pekerjaan untuk hidup. Itu mungkin jelas sekarang bahwa setiap
orang bekerja keras untuk uangnya sendiri. Kenyataannya adalah bekerja
itumemenugi kebutuhan psikologis dan social yang
penting(Renwick&Lawler,1978).
3.2. waktu
luang
Proses
dalam memilih sebuah pekerjaan dan yang terpenting dalam menemukan pekerjaan
yang cocok dengan minat dan bakat. Kepuasan kerja menuntut setiap orang untuk
bekerja pentungnya dengan waktu luang.
Waktu luang adalah waktu sela diantara waktu
yang diperuntukkan bagi pekerjaan utama. Tidak ada yang suka bekerja sepanjang
waktu. Sebagian besar dari kita menginginkan pergi ke sendiri dan dengan
keluarga kita. Istilah tradisional yang digunakan untuk waktu tidak bekerja
seperti itu liburan, secara harfiah berarti “waktu off bekerja atau tugas.”
Kebanyakan dari kita berpikir bahwa kita memiliki waktu luang lebih baik. Namun
peningkatan waktu luang sekarang menimbulkan masalah bagi banyak orang.
a. Menggunakan
waktu luang secara positif
Banyak hal yang dapat dilakukan saat waktu luang, hal yang paling umum
dilakukan seseorang saat waktu luang adalah pergi berlibur ke tempat tempat
wisata atau pergi berkumpul bersama teman ataj keluarga, tak banyak dari mereka
juga memanfaatkan waktu luang dengan cara meluapkan ide kreatif mereka ke dalam
tulisan ataupun dengan gambar dan menghasilkan karya yang positif dan juga
dapat menghasilkan pendapatan.
Kebanyakan orang menghabiskan begitu banyak waktu luang dan kegiatan di tempat
kerja, antara 30 dan 40 jam per minggu rata-rata. Hobby juga menjadi salah satu
cara yang positif untuk menghabiskan waktu luang seperti berolahraga, bertukar
pikiran dengan teman, dan berkumpul menghabiskan waktu untuk memikirkan suatu
apa yang ingin dilakukan untuk kedepannya. Untuk saya sendiri saya lebih banyak
meluangkan waktu luang saya untuk menghabiskannya berkumpul bersama
teman-teman.
·
Jalaluddin
Rakhmat, psikologi komunikasi, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 1996), hlm. 119Ibid, hlm. 120
·
Riyanti, B.P,
Hendro, Prabowo. (1998). Psikologi Umum 2. Jakarta: Universitas Gunadarma