A. Konsep
sehat
1. a.
dimensi social
sehat
yang dimana seseorang memiliki jiwa social yang baik. Nampak terlihat baik
apabila seseorang dapat berinteraksi pada orang lain atau pada dengan kelompok
lain secara baik tanpa mendang atau membedakan suku,ras,agama, status social
dan sebagainya.
b.
Dimensi fisik
sehat
yang dimana seseorang memiliki fisik yang sehat dimana tidak mengalami cacat
atau sebagainya. Tidak pernah mengeluh karena sakit atau tidak adanya keluhan
dan memang secara objektif tidak Nampak. Anggota tubuk berfungsi normal dan
tidak ada gangguan.
c.
Dimensi Intelektual
sehat
intektual jika seseorang memiliki kecerdasan dalam kategori yang baik mampu
melihat realitas. Mempunyai nalar yang baik dalam memecahkan masalah atau mengambil
keputusan.
d.
Dimensi spiritual
sehat
yang sangat penting bukanlah hanya sehat jasmani,sehat rohani pun tidak kalah
pentinya juga. Spiritual sehat dari cara
seseorang dalam mengekspresikan rasa bersyukur,pujianmkepercayaan dan
sebagainya dalam sesuatu di luar alam fana,yaitu Tuhan.
2. Sejarah
perkembangan Kesehatan Mental
Kesehatan Mental berawal dari fenomena atau
realita yang terjadi pada diri manusia sejak zaman pra Ilmiah. Menurut Marx
Webeer, manusia memasuki zaman atau era sejarah ketika mentalitas dari
individu-individu itu sendiri telah tertata dengan rapi dan didukung dari
segala aspek lingkungan yang memungkinkan. Oleh karena itu, manusia dapat
menghasilkan kebudayaan untuk pertama kalinya sebagai penanda adanya era baru
(sejarah). Hal itu berarti tanpa kesehatan mental yang tertata dengan rapi,
maka tidak akan ada kebudayaan yang lahir. Tanpa kebudayaan tersebut, maka
manusia pun tidak akan pernah memasuki era ini. Kesehatan mental adalah kunci
dari mobilitas personal dan sosial manusia.
PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL PRA ILMIAH
1. Masa Animisme
Sejak zaman dulu, sikap terhadap gangguan
kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep primitif animisme. Ada
kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa. Orang
primitif percaya bahwa angin bertiup, ombak mengalun, batu berguling, dan pohon
tumbuh karena pengaruh roh yang tinggal dalam benda-benda tersebut. Orang
Yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi karena dewa marah dan membawa
pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan
pesta (sesaji) dengan mantra dari korban yang mereka persembahkan.
Praktik-praktik semacam tersebut berlangsung mulai dari abad 7-5 SM.
2. Masa
Naturalisme
Setelah kemunculan naturalisme, maka praktik semacam itupun kian
berkurang, walaupun kepercayaan tentang penyakit mental tersebut berasal dari
roh-roh jahat tetap bertahan sampai abad pertengahan. Perubahan sikap terhadap
tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-467). Dia dan pengikutnya
mengembangkan pandangan revolusioner dalam pengobatan, yaitu dengan menggunakan
pendekatan ”Naturalisme”. Aliran ini berpendapat bahwa gangguan mentalatau
fisik merupakan akibat dari alam. Hipocrates menolak pengaruh roh, dewa, setan
atau hantu sebagai penyebab sakit. Dia menyatakan: ”Jika Anda memotong batok
kepala, maka Anda akan menemukan otak yang basah, dan memicu bau yang amis,
tetapi Anda tidak akan melihat roh, dewa atau hantu yang melukai badan Anda.”
Ide naturalistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam
lapangan pekerjaan pemeriksaan atau pembedahan hewan. Dalam perkembangan
selanjutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi di kalangan
orang-orang Kristen.
PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL ERA MODERN
Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan
pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan tradisional ke
sikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya
psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783.
Ketika itu, Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staff medis di rumah
sakit Pensylvania. Di rumah sakit ini, ada 24 pasien yang dianggap sebagai
lunatics(orang-orang gila atau sakit ingatan). Pada waktu itu, sedikit sekali
pengetahuan tentang penyakit kegilaan tersebut, dan kurang mengetahui cara
menyembuhkannya. Sebagai akibatnya, pasien-pasien tersebut dikurung dalam sel
yang kurang sekali alat ventilasinya, dan mereka sekali-sekali diguyur dengan
air. Rush melakukan usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang
menderita gangguan mental tersebut. Cara yang ditempuhnya adalah dengan melalui
penulisan artikel-artikel dalam koran, ceramah, dan pertemuan-pertemuan
lainnya. Akhirnya, setelah usaha itu dilakukan (selama 13tahun), yaitu pada
tahun 1796, di rumah mental, ruangan ini dibedakan untuk pasien wanita dan
pria. Secara berkesenimbungan, Rush mengadakan pengobatan kepada para pasien
dengan memberikan dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari
kesenangan. Perkembangan psikologi abnormal dan pskiatri ini memberikan
pengaruh kepada lahirnya ”mental hygiene” yang berkembang menjadi suatu ”Body
of Knowledge” beserta gerakan-gerakan yang terorganisir. Perkembangan kesehatan
mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran dan inspirasi para ahli, terutama
dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde Dixdan Clifford Whittingham
Beers. Kedua orang ini banyak mendedikasikan hidupnya dalam bidang pencegahan
gangguan mental dan pertolongan bagi orang-orang miskin dan lemah. Dorthea
Lynde Dix lahir pada tahun 1802 dan meninggal dunia tanggal 17 Juli 1887. Dia
adalah seorang guru sekolah di Massachussets, yang menaruh perhatian terhadap
orang-orang yang mengalami gangguan mental. Sebagian perintis (pioneer), selama
40 tahun, dia berjuang untuk memberikan pengorbanan terhadap orang-orang gila
secara lebih manusiawi. Usahanya, mula-mula diarahkan pada para pasien mental
di rumah sakit. Kemudian diperluas kepada para penderita gangguan mental yang
dikurung di rumah-rumah penjara. Pekerjaan Dix ini merupakan faktor penting
dalam membangun kesadaran masyarakat umum untuk memperhatikan kebutuhan para
penderita gangguan mental. Berkat usahanya yang tak kenal lelah, di Amerika
Serikat didirikan 32 rumah sakit jiwa. Dia layak mendapat pujian sebagai salah
seorang wanita besar di abad ke-19. Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental
secara formal mulai muncul. Selama dekade 1900-1909, beberapa organisasi
kesehatan mental telah didirikan, seperti American Social Hygiene Associatin(ASHA),
dan American Federation for Sex Hygiene. Perkembangan gerakan-gerakan di bidang
kesehatanmental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham Beers (1876-
1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, dia dinobatkan sebagai ”The Founder
Of The Mental Hygiene Movement”. Dedikasi Beers yang begitu kuat dalam
kesehatan mental dipengaruhi oleh pengalamannya sebagai pasien di beberapa
rumah sakit jiwa yang berbeda. Selama di rumah sakit, dia mendapatkan pelayanan
atau pengobatan yang keras dan kasar (kurang manusiawi). Kondisi seperti ini
terjadi karena pada masa itu belum ada perhatian terhadap masalah gangguan
mental, apalagi pengobatannya. Setelah dua tahun mendapatkan perawatan di rumah
sakit, dia mulai memperbaiki dirinya. Selama tahun terakhirnya sebagai pasien,
dia mulai mengembangkan gagasan untuk membuat gerakan untuk melindungi
orang-orang yang mengalami gangguan mental atau orang gila (insane). Setelah
dia kembali dalam kehidupan yang normal (sembuh dari penyakitnya), pada tahun
1908, dia menindaklanjuti gagasannya dengan mempublikasikan tulisan
autobiografinya yang berjudul A Mind That Found It Self. Beers meyakini bahwa
penyakit atau gangguan mental dapat dicegah atau disembuhkan. Dia merancang
suatu program yang bersifat nasional, yang tujuannya adalah:
1. Mereformasi program perawatan dan
pengobatan terhadap pengidap penyakit
jiwa;
2. Melakukan penyebaran informasi kepada masyarakat agar mereka
memiliki pemahaman dan sikap yang positif terhadap para pasien yang
mengidap gangguan atau penyakit jiwa;
3. Mendorong dilakukannya berbagai penelitian tentang
kasus-kasus dan obat gangguan mental
4. Mengembangkan praktik-praktik untuk
mencegah gangguan mental.
Begitu tertariknya terhadap gagasan Beers,
Adolf Mayer menyarankan untuk menamai gerakan itu dengan nama ”Mental Hygiene”.
Dengan demikian, yangmempopulerkan istilah ”Mental Hygiene” adalah Mayer. Belum
lama setelah buku itu diterbitkan pada tahun 1908, sebuah organisasi pertama
didirikan, bernama ”Connectievt Society For Mental Hygiene”.Satu tahu kemudian,
didirikanlah ”National Commite Society For Mental Hygiene”, dan Beers diangkat
menjadi sekretarisnya. Organisasi ini bertujuan untuk melindungi kesehatan
mental masyarakat, menyusun standard perawatan para pengidap gangguan mental,
meningkatkan studi tentang gangguan mental dalam segala bentuknya dan berbagi
aspek yang terkait dengannya, menyebarkan pengetahuan tentang kasus gangguan
mental, pencegahan dan penobatannya dan mengkoordinasikan lembaga-lembaga
perawatan yang ada. Terkait dengan perkembangan gerakan kesehatan mental ini,
Deutsch mengemukakan bahwa pada masanya dan pasca Perang Dunia I, gerakan
kesehatan mental ini mengkonsentarsikan programnya untuk membantu mereka yang
mengalami masalah serius. Setelah perang usai, gerakan kesehatan mental semakin
berkembang dan cakupan garapannya meliputi berbagai bidang kegiatan, seperti
pendidikan, kesehatan masyarakat, pengobatan umum, industri, kriminologi, dan
kerja sosial. Secara hukum, gerakan kesehatan mental ini mendapatkan
pengukuhannya pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat
menandatangani ”The National Mental Helath Act.4.
3.
Pendekatan Kesehatan Mental
Ø Orientasi
Klasik
Pada umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri
mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental.
Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan
fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedangkan
sehat mental artinya tidak ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi,
pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan
dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya aalah kehilangan
kontak dengan realitas. Orang-orang seperti itu tidak ada keluhan dengan
dirinya meski hilang kesadaran dan tak mampu emngurus dirinya sendiri secara
layak. Pengertian sehat mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk
digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi kekurangan itu dikembangkan
pengertian baru dari kata "sehat". Sehat atau tidak adanya seseorang
secara mental, belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri
terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan
lingkungan dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat
menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental.
Ø Orientasi
Penyesuaian Diri
Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat
mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup.
Oleh karena itu kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial
dan budaya, kita tidak dapat menentukkan sehat atau tidaknya mental seseorang
dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada
hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat
tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap senagat
sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau sehat mental
bukan sesuatu yang absolut. Berkaitan dengan relativitas batasan sehat mental,
ada gejala lain yang juga perlu dipertimbangkan. Kita sering melihat seseorang
yang menampilkan perilaku diterima oleh lingkungan pada satu waktu dan
menampilkan perilaku yang bertentangan dengan norma lingkungan di waktu lain.
Misalnya melakukan agresi yang berakibat kerugian fisik pada orang lain pada
saat suasana hatinya tidak enak tetapi sangat dermawan pada saat suasana
hatinya sedang enak. Dapat dikatakan bahwa orang itu sehat mental pada waktu
tertentu dan tidak sehat mental pada waktu lain. Lalu secara keseluruhan
bagaimana kita menilainya? sehatkah mentalnya? atau sakit? orang itu tidak
dapat dinilai sebagai ssehat mental dan tidak sehat mental sekaligus.
Ø Orientasi
Pengembangan Diri
Seseorang dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia
mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia
bisa dihargai oleh orang lain dan sirinya sendiri. Dalam psiko-terapi
(Perawatan Jiwa) ternyata yang menjadi pengendalian utama dalam setiap tindakan
dan perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang
lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukkan adalah perasaan. Telah
terbukti bahwa tidak selamanya perasaan tunduk kepada pikiran, bahkan sering
terjadi sebaliknya, pikiran tunduk kepada perasaan. Dapat dikatakan bahwa
keharmonisan antara pikiran dan perasaanlah yang membuat tindakan seseorang
tampak matang dan wajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan Hygiene
mental atau kesehatan mental adalah mencegah timbulnya gangguan mental dan
gangguan emosi, mengurangi atau menyembuhkan penyakit jiwa serta memajukkan
jiwa.
B.
Teori kepribadian sehat
1. Aliran Psikoanalisa
Sigmund Freud
(1856-1939) merupakan pendiri psikoanalisis. Menurut Freud pikiran-pikiran yang
direpres atau ditekan, merupakan sumber perilaku yang tidak normal atau
menyimpang.
Sumbangan terbesar Freud pada teori kepribadian adalah
eksplorasinya ke dalam dunia tidak sadar dan keyakinannya bahwa manusia
termotivasi oleh dorongan-dorongan utama yang belum atau tidak mereka sadari.
Bagi Freud, kehidupan mental terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam sadar. Alam tidak sadar terbagi menjadi dua
tingkat, alam tidak sadar dan alam bawah sadar.
Dalam
psikologi Freudian, ketiga tingkat kehidupan mental ini dipahami, baik sebagai
proses maupun lokasi. Tentu saja, keberadaan lokasi dari ketiga tingkat
tersebut bersifat hipotesis dan tidak nyata ada di dalam tubuh. Sekalipun
demikian, ketika membahas alam tidak sadar, Freud melihatnya sebagai suatu alam tidak sadar sekaligus proses
terjadi tanpa disadari.
Alam Tidak Sadar
Alam
bawah sadar (preconscious) ini memuat semua elemen yang tak disadari,
tetapi bisa muncul kesadaran dengan cepat atau agak sukar (Freud, 1993/1964).
Isi alam bawah sadar ini datang dari dua sumber, yang pertama adalah persepsi
sadar (conscious perception). Apa yang dipersepsikan orang secara sadar
dalam waktu singkat, akan segera masuk ke dalam alam bawah sadar selagi fokus
perhatian beralih ke pemikiran lain.
Alam Sadar
Alam
sadar (conscious), yang memainkan peran tak berarti dalam teori
psikoanalisis, didefinisikan sebagai elemen-elemen mental yang setiap saat
berada dalam kesadaran. Ini adalah satu-satunya tingkat kehidupan mental yang
bisa langsung kita raih. Ada dua pintu yang dapat dilalui oleh pikiran agar
bisa masuk ke alam sadar yaitu sistem kesadaran perseptual (perceptual
conscious), yaitu terbuka pada dunia luar dan berfungsi sebagai perantara
bagi persepsi kita tentang stimulus dari luar.
2.
Aliran Behavioristik
Behaviorisme atau
Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar) adalah filosofi dalam
psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua yang dilakukan organisme —
termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan— dapat dan harus dianggap sebagai
perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian dapat digambarkan
secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau konstrak
hipotetis seperti pikiran. Behaviorisme beranggapan bahwa semua teori harus
memiliki dasar yang bisa diamati tapi tidak ada perbedaan antara proses yang
dapat diamati secara publik (seperti tindakan) dengan proses yang diamati
secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan).
3.
Aliran Humanistik
Abraham Maslow
(1908-1970) dapat dipandang sebagai Bapak dari psikologi humanistik. Gerakan
ini merasa tidak puas terhadap psikologi behavioristik dan psikoanalisis, dan
memfokuskan penelitiannya pada manusia dengan ciri-ciri eksistensinya.
Psikologi humanistik mulai di Amerika Serikat pada tahun 1950
dan terus berkembang. Tokoh-tokoh Psikologi Humanistik memandang behavorisme mendehumanisasi manusia. Psikologi Humanistik mengarahkan perhatiannya pada
humanisasi psikologi yang menekankan keunikan manusia. Menurut Psikologi
Humanistik manusia adalah makhluk kreatif, yang dikendalikan oleh nilai-nilai
dan pilihan-pilihannya sendiri bukan oleh kekuatan-kekuatan
ketidaksadaran.
Maslow menjadi terkenal karena teori motivasinya, yang
dituangkan dalam bukunya “Motivation and Personality”. Dalam buku tersebut diuraikan bahwa pada
manusia terdapat lima macam kebutuhan yang berhirarki, meliputi:
1)
Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physiological
needs)
2)
Kebutuhan-kebutuhan rasa aman (the safety needs /
the security needs)
3)
Kebutuhan rasacinta dan memiliki (the love and belongingness needs)
4)
Kebutuhan akan penghargaan diri (the self-esteem
needs)
5)
Kebutuhan akan aktualisasi diri (the
self-actualization needs)
Menurut Maslow
psikologi harus lebih manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatiannya pada
masalah-masalah kemanusian. Ada empat ciri psikologi yang berorientasi
humanistik, yaitu:
a) Memusatkan perhatian pada person yang mengalami, dan karenanya berfokus pada
pengalaman sebagai fenomena primer dalam mempelajari manusia.
b) Memberi tekanan pada kualitas-kualitas yang
khas manusia, seperti kreativitas, aktualisasi diri, sebagai lawan pandangan
tentang manusia yang mekanistis dan reduksionis.
c)
Menyadarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah-masalah yang akan
dipelajari dan prosedur-prosedur penelitian yang akan digunakan.
d) Memberikan perhatian dan meletakkan
nilai yang tinggi pada kemuliaan dan martabat manusia serta tertarik pada
perkembangan potensi yang inheren pada setiap individu (Misiak dan Sexton,
1988). Selain Maslow sebagai tokoh dalam psikologi humanistik, juga Carl Rogers
(1902-1987) yang terkenal dengan client-centered
therapy (Walgito, B 2002 :
80).
4.
Pendapat Alport
Allport lebih optimis di bandingkan dengan freud jika membahas tentang kodrat manusia,dan ia memperlihatkan suatu keharuan yang luar biasa tentang manusia dan sifat-sifat yang tampaknya bersumber pada masa kanak-kananya. pengalaman-pengalaman pribadinya ini kelak yang tercemir dan menggambarkan dalam pandangan teoritisnya tentang kodrat kepribadian manusia.
Daftar Pustaka A:
Adityawarman, Indra. 1978. Jurnal Dakwah dan Komunikasi : Sejarah
Perkembangan Gerakan Kesehatan Mental. 4 (1). 1-4.
Whitbourne,Halgin.Psikologi Abnormal.Jakarta:Salemba Humanika.2010
Daftar Pustaka B:
Basuki,Heru. 2008. Psikologi
Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma.