Tugas III
Penyesuaian
Diri
Penyesuaian diri atau
biasa di sebut adaptasi diri, yang
pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis,
atau biologis. Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke
daerah dingin harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin
tersebut.
Penyesuaian
juga dapat diartikan sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu
dengan standar atau prinsip
1.
Konsep Penyesuaian Diri
Makna akhir dari hasil
pendidikan seseorang individu terletak pada sejauh mana hal yang telah
dipelajari dpat membantunya dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan
hidupnya dan pada tuntutan masyarakat. Sejak lahir sampai meninggal seorang
individu merupakan organisme yang aktif dengan tujuan aktivitas yang
berkesinambungan. Ia berusaha untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan jasmaninya
dan juga semua dorongan yang memberi peluang kepadanya untuk berfungsi sebagai
anggota kelompoknya, penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri
sendiri maupun terhadap lingkungannya.
2. Pertumbuhan Personal
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis
sebagai hasil dari proses-proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang
berlangsung secara normal yang sehat pada waktu yang normal.
A.
Penekanan Pertumbuhan, Penyesuaian diri dan
Pertumbuhan
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan dari tidak ada menjadi ada, dari sedikit menjadi banyak, dan sebaginya. Ini tidak berarti, bahwa pertumbuhan itu hanya berlaku pada hal-hal yang bersifat kuantitatif, karena tidak selamnya material itu kuantitatif.
B.
Variasi dalam Pertumbuhan
Dalam
variasi pertumbuhan memang sangat beragam. Tidak semua individu berhasil dalam
melakukan penyesuaian diri berdasarkan tingkatan usia, pertumbuhan fisik,
maupun sosial nya. Mengapa? karena terkadang terdapat rintangan-rintangan yang
menyebabkan ketidakberhasilan individu dalam melakukan penyesuaian, baik
rintangan itu dari dalam diri atau dari luar diri.
C.
Kondisi-Kondisi untuk Bertumbuh
Kondisi
jasmani seperti pembawa atau konstitusi fisik dan tempramen sebagai
disposisi yang diwariskan, aspek perkembangannya secara intrinsik berkaitan
erat dengan susunan atau konstitusi tubuh, kondisi jasmani dan kondisi
pertumbuhan fisik memang sangat mempengaruhi bagaimana individu dapat
menyesuaikan diri nya.
Carl
Roger (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam
suatu hubungan :
1. Keikhlasan
kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan.
2. Menghormati
keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali, dan
3. Keinginan
yang terus menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.
D.
Fenomenologi
pertumbuhan
Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan”
yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap, orang mengalami
dunia dengan caranya sendiri. “Alam pengalaman setia orang berbeda dari alam
pengalaman orang lain.” (Brouwer, 1983:14 Fenomenologi banyak mempengaruhi
tulisan-tulisan Carl Rogers, yang boleh disebut sebagai-_Bapak Psikologi
Humanistik. Carl Rogers menggarisbesarkan pandangan Humanisme sebagai berikut
(kita pinjam dengan sedikit perubahan dari Coleman dan Hammen, 1974:33).
Stress
A. Pengertian
Stress
Stres
adalah terpacunya tubuh dan pikiran untuk merespon tuntutan yang datang pada
seseorang. Stres tidak bisa dan sebaiknya tidak dihindari, sebaliknya stres
harus ditahan, diatur, dan diarahkan. Respon dari stres mempengaruhi organ dan
jaringan di dalam tubuh. Pikiran dan perasaan jelas terjalin dengan
proses-proses fisiologis, tubuh mempengaruhi pikiran dan sebaliknya. Perilaku
yang sering dimunculkan karena stres misalnya, mudah marah, berbicara dengan
cepat, dan bergerak seperti terburu-buru (Schafer, 2000).
B. Tipe
– Tipe Stress Psikologis
Tiga
tipe stres menurut Schafer (2000):
(1) Neustres (stres yang netral). Stres menjadi sesuatu yang netral ketika seseorang merespon tuntutan dari dalam maupun luar dirinya dengan netral. Pikiran dan tubuh dipacu, tetapi dampak yang dirasakan dari tuntutan yang ada hanya sedikit dan seseorang itu mampu menjalani kehidupannya seperti biasa.
(2) Distres (stres yang bersifat negatif). Seseorang menganggap pengalaman atau peristiwa yang dialaminya itu membahayakan tergantung pada derajat apakah seseorang menerimastresor itu sebagai sesuatu yang melebihi kemampuannya untuk ditangani, dan apakah itu mengancam kesejahteraannya (Lazarus & Folkman, 1984). Simptom-simptom distres antara lain: konsentrasi yang rendah, mudah marah, tangan sering berkeringat, pundak terasa kaku, cemas, depresi, dan berbicara dengan cepat. Di dalam keluarga, adanya kondisi distres pada salah satu anggota, terutama orangtua, dapat menimbulkan masalah, seperti: ketegangan di dalam keluarga, teredamnya kebebasan berekspresi, konflik terbuka, menjatuhkan secara psikologis, rendahnya harga diri anggota keluarga yang lain, tidak memberikan perhatian penuh pada kebutuhan fisik dan emosi anggota keluarga yang lain, dan menyebabkan kehancuran dalam keluarga.
(3)Positive Stres. Stres yang memberikan manfaat ketika muncul, antara lain: (a) membantu merespon dengan cepat dan segenap tenaga dalam keadaan darurat; (b) membantu menyadari potensi diri yang sesungguhnya; (c) berguna untuk tampil dengan baik ketika berada di bawah tekanan (seperti wawancara kerja); dan (d) membantu mendorong seseorang ke titik batas.
C. Efek-efek Stress
- Pada Perilaku
·
Sakit kepala
·
Ketegangan atau nyeri otot
·
Nyeri dada
·
Kelelahan
·
Perubahan dalam gairah seks
·
Gangguan perut
·
Masalah Tidur
·
Kecemasan
·
Gelisah
·
Kurangnya motivasi atau fokus
·
Lekas marah
·
Kesedihan atau depresi
D. Faktor-faktor
penyebab stress
1. Faktor lingkungan
Selain memengaruhi
desain struktur sebuah organisasi, ketidakpastian lingkungan juga memengaruhi
tingkat stres para karyawan dan organisasi Perubahan dalam siklus bisnis
menciptakan ketidakpastian ekonomi, misalnya, ketika kelangsungan pekerjaan
terancam maka seseorang mulai khawatir ekonomi akan memburuk.
2. Faktor
organisasi
Banyak faktor di dalam organisasi
yang dapat menyebabkan stres. Tekanan untuk menghindari kesalahaan atau
menyelesaikan tugas dalam waktu yang mepet, beban kerja yang berlebihan, atasan
yang selalu menuntut dan tidak peka, dan rekan kerja yang tidak menyenangkan
adalah beberapa di antaranya. Hal ini dapat mengelompokkan faktor-faktor ini
menjadi tuntutan tugas, peran, dan antarpribadi.
3.
Faktor-faktor Penyebab Stres Kerja (Stressor) Karyawan
Stres kerja yang
dialami seseorang dipengaruhi oleh faktor penyebab stres baik yang berasal dari
dalam pekerjaan maupun dari luar pekerjaan. Faktor penyebab stres kerja yang
dibahas dalam penelitian ini hanya faktor organisasional, yakni faktor yang
berasal dari dalam pekerjaan yang mencakup tuntutan tugas, tuntutan peran,
tuntutan hubungan antarpribadi, struktur organisasi, kepemimpinan organisasi,
dan tahap hidup organisasi.
Tuntutan tugas adalah
faktor yang terkait dengan pekerjaan seseorang. Tuntutan tersebut meliputi
desain pekerjaan individual, kondisi kerja, dan tata letak fisik pekerjaan.
Sebagai contoh, bekerja di ruangan yang terlalu sesak atau di lokasi yang
selalu terganggu oleh suara bising dapat meningkatkan kecemasan dan stres.
Dengan semakin pentingnya layanan pelanggan, pekerjaan yang menuntut faktor
emosional bisa menjadi sumber stres.
4.
Faktor pribadi
Faktor-faktor pribadi terdiri dari
masalah keluarga, masalah ekonomi pribadi, serta kepribadian dan karakter yang
melekat dalam diri seseorang.
Survei nasional secara
konsisten menunjukkan bahwa orang sangat mementingkan hubungan keluarga dan
pribadi. berbagai kesulitan dalam hidup perkawinan, retaknya hubungan, dan
kesulitan masalah disiplin dengan anak-anak adalah beberapa contoh masalah hubungan
yang menciptakan stres.
Masalah ekonomi karena
pola hidup yang lebih besar pasak daripada tiang adalah kendala pribadi lain
yang menciptakan stres bagi karyawan dan mengganggu konsentrasi kerja karyawan.
Studi terhadap tiga organisasi yang berbeda menunjukkan bahwa gejala-gejala
stres yang dilaporkan sebelum memulai pekerjaan sebagian besar merupakan
varians dari berbagai gejala stres yang dilaporkan sembilan bulan kemudian. Hal
ini membawa para peneliti pada kesimpulan bahwa sebagian orang memiliki
kecenderungan kecenderungan inheren untuk mengaksentuasi aspek-aspek negatif
dunia secara umum. Jika kesimpulan ini benar, faktor individual yang secara
signifikan memengaruhi stres adalah sifat dasar seseorang. Artinya, gejala
stres yang diekspresikan pada pekerjaan bisa jadi sebenarnya berasal dari
kepribadian orang itu.
Sumber:
Semium, yustinus.2006.kesehatan mental 1.kanisius:Jakarta
http://adlanhandayana.wordpress.com/category/kesehatan-mental/
http://adlanhandayana.wordpress.com/category/kesehatan-mental/
Hartono, A., dan Sunanro. 1995. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.
agnesdevia.wordpress.co/tag/reducing-stress/